Kehutanan : Prosedur Kebun Bibit Rakyat Dipermudah

kompas 160311

Malang, Kompas – Kementerian Kehutanan mempermudah prosedur permohonan pembangunan kebun bibit rakyat oleh kelompok masyarakat. Langkah ini bertujuan mempercepat penyediaan bibit pohon gratis kepada masyarakat seiring meningkatnya minat menanam pohon.

Demikian disampaikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan saat menyerahkan program kebun bibit rakyat (KBR) senilai Rp 2,5 miliar kepada 50 kelompok petani hutan di Desa Dengkol, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (15/3). Setiap kelompok tani penerima bantuan kebun bibit rakyat wajib memproduksi sedikitnya 50.000 bibit pohon siap tanam.

[Read the rest of this entry…]

Tags: , , , , ,

Comments (400)

Ketangguhan Jepang Memukau Dunia

kompas 160311

Ketangguhan Jepang menghadapi tekanan tiga bencana besar sekaligus, yakni gempa bumi, tsunami, dan radiasi nuklir, memukau dunia. Reputasi internasional Jepang sebagai negara kuat mendapat pujian luas. Tak adanya penjarahan menguatkan citra ”bangsa beradab”.

Pemerintah Jepang, Selasa (15/3), terus memacu proses evakuasi dan distribusi bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau sebelumnya. Seluruh kekuatan dan sumber dayanya dikerahkan maksimal ke Jepang timur laut, daerah yang terparah dilanda tsunami. [Read the rest of this entry…]

Tags: , , , , ,

Comments (4)

Pangan : BI Diminta Dukung Peningkatan Produksi

Jakarta, Kompas 08-03-2011 – Kebijakan Bank Indonesia harus secara konkret mampu mendorong peningkatan produksi pangan guna menekan laju inflasi dari kelompok bahan makanan yang harganya mudah bergejolak.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, Senin (7/3) di Jakarta, mengungkapkan itu menjawab pertanyaan terkait penegasan Gubernur BI Darmin Nasution soal perlunya penanganan masalah inflasi inti terutama pada inflasi kelompok bahan makanan dari sumbernya dengan cara meningkatkan produksi pangan. [Read the rest of this entry…]

Tags: , , , ,

Comments (35)

Ketergantungan Impor Perparah Krisis Pangan

Jakarta, Kompas 08-03-2011 – Ketergantungan terhadap berbagai komoditas pangan yang diimpor dari sejumlah negara dikhawatirkan akan memperburuk krisis pangan di dalam negeri. Kebijakan pemerintah seharusnya bersifat jangka panjang dan lebih mengutamakan pemenuhan secara swasembada.

”Kalau semuanya terus-terusan diimpor, ketergantungan Indonesia akan semakin besar. Impor hanyalah kebijakan instan yang tidak bisa menyelesaikan masalah untuk jangka panjang. Dalam jangka pendek masalah mungkin akan selesai, tetapi setelah itu akan kembali berulang,” kata Revrisond Baswir, pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada, yang dihubungi Kompas, Senin (7/3). [Read the rest of this entry…]

Tags: , , , , , ,

Comments (1)

Belajar dari Mereka yang Mampu Berempati

Oleh A Budi KurniAwan
Kompas, 18 Feb 2011. Pada saat banyak orang bersikukuh tentang ajaran agama, muncul sebuah kelompok akademik yang justru melihat secara kritis bagaimana agama-agama mampu berperan bagi masyarakat. Ternyata, studi yang bisa jadi belum lazim di Indonesia itu justru mampu membuka wawasan dan bukan hujatan terhadap aneka ragam agama dan keyakinan yang tumbuh di Indonesia. [Read the rest of this entry…]

Tags: , ,

Comments (134)

Tambang Merusak Sawah

SAMARINDA, KOMPAS – Aktivitas tambang batu bara di Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Samarinda, Kalimantan Timur, merusak persawahan dan kolam ikan milik warga sekitar. Akibatnya, sebagian sawah gagal panen.
Puluhan hektar sawah yang terdapat di RT 13 dan RT 15 rusak karena [Read the rest of this entry…]

Tags: , , ,

Comments (45)

Hak Buruh Mulai Digusur

(kompas, 18 Feb. 11) IDAHO, KAMIS – Walaupun diprotes keras, dua rancangan undang-undang yang bertujuan melemahkan hak-hak serikat pekerja di Negara Bagian Idaho, AS, berhasil melewati ujian pertama, Rabu (16/2), di tingkat komisi.
Rancangan undang-undang (RUU) itu jika lolos memang direncanakan berlaku untuk Idaho. Akan tetapi, hal itu merupakan refleksi dari keadaan makro yang memperlihatkan [Read the rest of this entry…]

Tags: , , , ,

Comments (250)

Peternak Unggas Mandiri Menjerit

(Kompas, 18 Feb. 11) Jakarta, Kompas – Harga jual ayam pedaging terus merosot sejak lima bulan terakhir. Di sisi lain, harga pakan dan bibit ayam terus naik. Peternak mandiri dan kemitraan berharap pemerintah turun tangan menyelamatkan industri peternakan nasional.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara Sigit Prabowo, Kamis (17/2) di Bogor, Jawa Barat, sehari setelah peternak berkumpul membahas kondisi industri perunggasan nasional yang terus terpuruk. [Read the rest of this entry…]

Tags: , , , ,

Comments (54)

Produksi Padi Turun 30 Persen

Kompas 18 Feb. 11 Jakarta, Kompas – Produksi padi musim panen pertama tahun ini di sejumlah daerah di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi diperkirakan turun sekitar 30 persen dibandingkan dengan kondisi normal. Cuaca yang tak menentu menjadi penyebab munculnya sejumlah hama hingga menurunkan produksi.
Berdasarkan pantauan Kompas di sejumlah daerah, Kamis (17/2), penurunan produksi padi bervariasi antara 9,3 persen dan [Read the rest of this entry…]

Tags: , ,

Comments (3)

Menyuluh adalah Mengabdi

(KOMPAS, 13 Feb 2011) Ketika wilayah radius 17,5 kilometer dari Gunung Merapi harus dikosongkan, Frans Hero Making bertahan di Balai Besar Benih, Ngemplak, Sleman, DI Yogyakarta. Dia memilih menjaga benih ikan daripada lari menyelamatkan diri dari ancaman letusan gunung itu.
”Saya sampai dibilang gila oleh aparat keamanan yang bertugas mengevakuasi warga karena ngotot bertahan di kantor. Saya bertahan karena kalau sampai benih ikan habis dijarah, peternak ikan bakal tidak bisa makan. Tak apa-apa saya dibilang gila,” ujar Frans mengisahkan pengalamannya itu.
Kegilaan penyuluh perikanan tersebut tak berhenti di situ. Ketika Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad berkeliling melihat kondisi peternak ikan sehari setelah letusan besar Merapi, Frans nekat mengarahkan rombongan menteri berhenti di Dusun Bongasan, Desa Umbulmartani, Sleman, yang terkena dampak langsung.
”Waktu itu anggota rombongan sudah gelisah karena gemuruh dari arah gunung masih terdengar jelas. Tetapi, saya sudah memantau dari teman, situasinya cukup aman,” katanya.
Di Dusun Bongasan, Frans memperlihatkan ribuan benih ikan yang mati karena kolam tertutup debu Merapi. Ia bersikeras bukan tanpa alasan. Ia merasa pemerintah harus melihat langsung kondisi peternak ikan dan mendengar kebutuhan mereka. Informasi itu tak bakal didapat jika rombongan menteri hanya melintas.
”Dampak erupsi Merapi masif sekali. Lebih dari 95 persen peternak ikan di Yogyakarta terkena. Bukan hanya yang lokasinya dekat Merapi, peternak ikan koi dan arwana di Kota Yogya juga terpukul karena kondisi air sungai berubah,” katanya.
Peternak ikan di Sleman memasok sekitar 60 persen kebutuhan ikan konsumsi, seperti nila, gurami, dan bawal air tawar, di Yogyakarta. Selain itu, Sleman juga menjadi sumber benih ikan untuk daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Frans mengatakan, para peternak harus membuat sumur pantek untuk menggantikan air sungai dari hulu Merapi yang kualitasnya turun karena kadar sulfur tinggi.
Cinta menyuluh
Frans sudah lebih dari 10 tahun bertugas sebagai penyuluh perikanan di Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman. Ketika pergi meninggalkan tanah kelahirannya, Flores, Nusa Tenggara Timur, tahun 1982, Frans muda bercita-cita ikut tes masuk perguruan tinggi di Yogyakarta.
”Waktu itu orangtua menabung lama sekali dari hasil menjual kopra untuk bekal ongkos (saya) ke Yogyakarta,” kenangnya.
Sayang, ia terlambat. Tes masuk sudah lewat. Ia mencoba melamar menjadi tentara, tetapi tak lolos seleksi.
Tak sengaja, Frans membaca pengumuman Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman yang mencari lulusan sekolah menengah atas jurusan ilmu pengetahuan alam. Ia pun kemudian mendaftar dan diterima.
”Saya dikursuskan budidaya ikan di Sidoarjo, Jawa Timur, selama enam bulan. Saya jadi penyuluh perikanan sejak itu,” katanya.
Tahun 1993-1996 dia tugas belajar di akademi penyuluh perikanan di Bogor. Kembali ke Yogyakarta, Frans meneruskan mengabdi sebagai penyuluh perikanan sekaligus perekayasa benih di Balai Benih Ikan Kecamatan Ngemplak.
Frans yang suka bicara apa adanya itu menemukan kecintaan pada profesi sebagai penyuluh. Peternak ikan binaannya tersebar di Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan, dan Ngemplak, Sleman. Ia belajar dari pengalaman untuk menghadapi peternak ikan yang punya bermacam masalah, mulai dari masalah yang lucu, menggemaskan, sampai yang menyedihkan.
Ia mencontohkan, peternak lebih percaya bila penyuluh bisa membuktikan teorinya. ”Makanya, saya juga praktik. Bikin kolam ikan pembenihan dan pembesaran di rumah supaya bisa bilang yang saya omongkan memang terbukti berhasil,” ujarnya.
Hasil eksperimen di kolamnya sendiri berhasil mengantarkan Frans meraih Juara III Festival Karya Penyuluh Perikanan Tingkat Nasional 2009. Ia membuat pola pembenihan ikan nila dengan pendederan sistem Tanaman Jajar Legowo Mina Padi.
Dengan pola temuan Frans, petani mudah memisahkan benih ikan nila di sawah mereka. Untuk karyanya itu, ia mendapat hadiah seekor sapi dari Bupati Sleman. ”Sapinya sedang bunting,” ujarnya bangga.
Ada lagi pengalaman yang membuat ia gemas saat terlibat dalam program budidaya ikan dengan pola mina padi ratusan hektar di Kecamatan Cangkringan tahun 1998. Siang-malam bersama kelompok peternak binaannya, tenaga Frans tercurah mengerjakan program itu.
”Waktu itu lahan mina padi sudah siap semua, tetapi bantuan benih dari Dinas Pertanian Provinsi Yogyakarta tidak siap. Wah, habis saya dimaki-maki, bahkan diancam mau dimatikan para peternak,” ceritanya.
Untunglah, kekesalan para peternak tak berlarut-larut karena masalah segera diselesaikan. Ketulusan Frans dalam memberi penyuluhan membuat peternak percaya niatnya semata mengabdi. Tak heran, ada peternak binaannya yang bersepeda ke rumah Frans membawa pisang, singkong, dan hasil kebun lain sebagai tanda terima kasih saat kolam mereka panen.
Tanpa pamrih
Kedekatan Frans dengan peternak bimbingannya terlihat ketika ia masuk-keluar kampung di Desa Sindumartani dan Desa Umbulmartani akhir Januari lalu. Tak ada warga yang tidak menyapanya. Ketika bertemu dengan salah satu bekas kelompok binaannya yang sibuk mengganjal tepian sungai dengan karung pasir, Frans dengan bersemangat membantu mereka.
”Peternak di sepanjang Kali Gendol ini banyak yang kolamnya hilang tersapu banjir lahar. Ada yang habis sampai 20 kolam,” ujarnya.
Kebersamaan tanpa pamrih itu yang dijaganya. Ia anti menerima uang dari peternak binaannya. ”Tidak sedikit peternak yang ke rumah memberi amplop. Tetapi, saya tolak. Saya katakan, bila mereka dapat program bantuan, itu karena memang mereka layak dapat, bukan karena saya,” katanya.
Awalnya, banyak peternak kaget dengan prinsip Frans. Namun, penggemar sepak bola itu menanggapinya dengan bercanda. ”Saya bilang, uangnya disimpan saja. Tetapi, tolong kalau saya meninggal, datang melayat. Akhirnya mereka ketawa lagi,” katanya.
Prinsip pengabdian itu yang membuat Frans meminggirkan ego mendahulukan kepentingan peternaknya dengan memilih bertahan di Balai Besar Benih Ngemplak, Sleman. Frans pun tak keberatan disebut penyuluh gila….
Frans Hero Making
• Lahir: Flores Timur, 20 Juli 1962 • Istri: Sri Maryati • Anak: – Fernando Redondo- Shinta Lestari • Pendidikan: – SMA Negeri Kalabahi Alor, Nusa Tenggara Timur- Sekolah Penyuluh Perikanan Sidoarjo, Jawa Timur- Diklat Perekayasa Budidaya Ikan, Bogor • Keahlian: Perekayasa Pembenihan Perikanan • Aktivitas sosial: Manajer Sekolah Sepak Bola Bina Putra Jaya

Menyuluh adalah Mengabdi (Word)

Menyuluh adalah Mengabdi (PDF)

Tags: , ,

Comments (143)