Jumat,04 November 2011

Bogor, Kompas – Kerusakan daerah hulu sungai yang ditandai dengan fluktuasi air yang begitu tinggi saat kemarau dan hujan, seperti terjadi di Sungai Ciliwung dan Cisadane, akan membuat banjir semakin parah. Dalam jangka panjang, banjir akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan investasi.

Hal tersebut disampaikan Didit Okta Pribadi, Kepala Divisi Ekonomi Tata Ruang Wilayah pada Pusat Pengkajian, Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah, Institut Pertanian Bogor, Kamis (3/11).

Menurut dia, laju pertambahan ketinggian air yang bisa begitu cepat dalam waktu singkat merupakan salah satu indikator kerusakan daerah tangkapan air akibat alih fungsi lahan.

Berdasarkan data Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, pada tahun 2010, ketinggian air dari Bendung Katulampa sempat naik dari 0,3 meter menjadi 2,5 meter dalam satu jam, padahal tahun-tahun sebelumnya memerlukan 4-6 jam. Sementara pada 28 Oktober lalu, air naik dari nol meter menjadi 1 meter dalam waktu satu jam.

”Kalau (pembenahan) hulu dan hilir bekerja sendiri-sendiri, masalah ini sulit selesai. Tidak bisa Jakarta hanya membenahi gorong-gorong air, tetapi daerah aliran sungai rusak dan laju air permukaan tinggi,” tutur Didit Okto Pribadi.

Menurut dia, harus ada keterpaduan serta ada insentif dan disinsentif lintas daerah. Misalnya, Bogor akan enggan membenahi daerah hulu karena merasa dampak langsung akan dirasakan Jakarta. Persoalan ini kompleks, harus menghitung berapa persen sumbangsih banjir dari drainase Jakarta, kerusakan hulu di Bogor, atau penyempitan sungai, dan kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan.

Warga perlu waspada

Menghadapi cuaca ini, warga perlu lebih waspada. Terkait buruknya tangkapan air dan curah hujan tinggi, dua warga Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, hanyut terseret banjir bandang di Sungai Cikaniki, anak Sungai Cisadane. Encin (50) dan Nyai (19), putrinya, sedang mencuci baju di tepi sungai, Rabu sore. Hingga Kamis sore, jenazah Encin masih dicari, sedangkan jenazah Nyai sudah ditemukan beberapa jam setelah terbawa arus.

Di Cilebut, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Nahrudin (40), pekerja proyek pembuatan talut, tewas akibat tanah longsor saat mengerjakan proyek tersebut, Kamis pagi. Saat itu cuaca cerah, tetapi Rabu malam hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Korban meninggalkan empat anak dan seorang istri.

Seorang anak berusia tujuh tahun juga tewas tersambar petir di Serang, Banten, saat sedang mengejar layang-layang di tanah lapang Kampung Jakung Tengah, Desa Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Rabu.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Serang, Eko Widyantoro, mengimbau warga agar mewaspadai petir. Saat mendung, warga jangan berjalan di dekat rel, berenang, atau berada di dekat kolam. (GAL/CAS/NDY)