Kompas 17-03-11

Jakarta, Kompas – Pembangkit listrik tenaga nuklir merupakan pilihan terakhir sumber energi listrik bagi Indonesia. Selama masih ada pilihan energi alternatif lain, nuklir tak akan dipilih.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan hal itu kepada wartawan di Jakarta, Rabu (16/3). ”Ada atau tidak ada kejadian gempa di Jepang, Indonesia menempatkan nuklir pada pilihan terakhir,” kata Hatta.

Hal itu dikatakan Hatta yang ditanya wartawan mengenai pilihan Indonesia atas sumber energi selain minyak, terutama pasca-ledakan hidrogen pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima, Jepang.

Meskipun demikian, kata Hatta, Indonesia tidak menutup diri terhadap pilihan energi nuklir. Namun, sumber energi lain akan lebih diprioritaskan di antara bauran energi di Indonesia.

Anggota Dewan Energi Nasional, Rinaldy Dalimi, yang dihubungi Rabu malam mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki banyak batu bara yang belum optimal dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. Dari 300 juta ton produksi per tahun, sekitar 75 juta ton-80 juta ton diekspor. ”Harus dipikirkan batu bara sebagai sumber energi murah. Kalau soal nuklir, saya setuju dijadikan alternatif terakhir,” kata Rinaldy.

Kemarin, terkait kenaikan harga minyak mentah dunia, Hatta meminta ketergantungan terhadap bahan bakar minyak harus dikurangi secepat mungkin. Hal itu baik untuk energi listrik maupun bahan bakar kendaraan.

Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah mempercepat produksi dan penggunaan gas sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak. Kendaraan transportasi publik dan kendaraan pribadi akan didorong menggunakan bahan bakar gas.

Untuk itu, stasiun pengisian bahan bakar gas harus diperbanyak. Terminal penerima di daerah harus diperbanyak agar gas dapat dialirkan dengan cepat ke berbagai daerah.

”Mungkin (untuk itu harus) dibuat insentif bagi konversinya itu,” kata Hatta. (IDR)