Kompas, 17 03 11.

Jakarta, Kompas – Kesulitan petani memperoleh akses kredit perbankan dapat teratasi dalam waktu dekat. Menteri Pertanian Suswono dan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Rabu (16/3), menyepakati pengembangan sektor pertanian, sumber daya peningkatan usaha kecil menengah pertanian, dan akses sektor pertanian ke sumber pembiayaan.

Dalam jumpa pers seusai penandatanganan nota kesepahaman, Suswono menjelaskan, kerja sama tersebut mencakup pemetaan daerah unggulan, dukungan kredit bagi petani, kebijakan dan prioritas bidang usaha, serta pembinaan dan pengawalan.

”Dalam pembiayaan, peran dari kalangan perbankan masih kurang. Mungkin karena selama ini pertanian dianggap tinggi risiko. Jadi, MoU ini merupakan dukungan dan akses kredit kepada petani,” kata Suswono.

Menurut Darmin, BI memfasilitasi agar petani dapat memperoleh akses kredit. ”Bagaimana caranya agar kredit berjalan di sektor pertanian,” kata Darmin.

Selama ini, tambah Darmin, mungkin saja perbankan belum bisa menghitung risiko kredit untuk sektor pertanian. Akibatnya, kredit bagi pertanian menjadi berisiko dan mahal.

Ditanya lebih lanjut tentang potensi kredit perbankan di sektor pertanian, Suswono menjawab, sejauh ini Kementerian Pertanian masih menghimpun data. Nantinya, akan diketahui sebenarnya berapa banyak petani yang membutuhkan kredit pertanian berikut jumlahnya.

”Saat ini memang sudah ada Kredit Usaha Rakyat. Kenyataannya, petani masih sulit memperoleh akses kredit tersebut. Padahal, KUR itu bisa Rp 20 juta tanpa agunan,” kata Suswono.

Kepala Divisi Pembiayaan Mikro dan Kecil Bank Syariah Mandiri (BSM) Andri Vendredi mengatakan, pada 2007 BSM pernah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian menyalurkan Skim Pelayanan Pembiayaan Pertanian sebesar Rp 125 miliar. BSM juga memiliki alokasi dana pembiayaan untuk sektor pertanian.

Selain itu, BSM juga menyalurkan KUR bagi petani melalui program inti-plasma. Dari target pemerintah tahun 2010 sebesar Rp 550 miliar, BSM menyalurkan Rp 560 miliar. Dari total KUR yang disalurkan itu, sekitar 60 persennya untuk sektor pertanian atau agrobisnis.

”Selama ini sebagian besar penyaluran memang masih melalui pola kemitraan. Pembiayaan disalurkan melalui perusahaan inti yang membina petani plasma,” kata Andri.

Data Bank Indonesia menyebutkan, kredit bank umum untuk sektor pertanian, perburuan, dan sarana pertanian sebesar Rp 90,999 triliun pada 2010. Jumlah itu sekitar 5,15 persen dari total kredit bank umum, yakni Rp 1.765,845 triliun.

Pada 2009, kredit untuk pertanian sebesar Rp 77,412 triliun, atau 5,92 persen dari total kredit sebesar Rp 1.307,688 triliun.

(IDR)