Jakarta, Kompas – Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan mengembangkan dan mengupayakan budidaya produk pertanian hasil rekayasa genetika. Keputusan itu diambil untuk menjaga keamanan pangan dan mengurangi ketergantungan negara akan impor.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, Senin (14/3) di Jakarta, mengatakan, pengembangan produk pangan transgenik merupakan terobosan teknologi dalam mengatasi permasalahan pangan. ”Arahan kebijakan sangat jelas, kita gunakan (transgenetika),” kata Bayu seusai membuka seminar ”Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops in 2010” di Kementerian Pertanian.

Hanya saja, kata Bayu, penerapannya di Indonesia jangan membuat petani bergantung pada perusahaan atau negara tertentu karena teknologi ini sudah sangat dikuasai negara luar.

Bayu mengatakan, pertanian transgenik telah digunakan luas di China, bahkan seluruh pangan di Argentina merupakan hasil penerapan bioteknologi.

Kementerian Pertanian kini sedang membangun sistem untuk memberikan perlindungan bagi petani dan pengusaha. ”Jangan sampai terulang kembali pengalaman pemalsuan bibit yang merugikan petani dan pengusaha,” ujarnya.

Direktur Pusat Informasi Bioteknologi Indonesia (IndoBIC) Bambang Purwantara mengatakan, Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Indonesia telah meloloskan spesies jagung hasil transgenik Bt Corn NK603 dan Bt Corn MON89304 untuk pangan dan pakan.

Ada pula tebu yang tahan penyakit dan tahan kekeringan, yang telah usai tahap notifikasi publik di Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia. Tebu ini hasil penelitian Universitas Negeri Jember dan PT Perkebunan Nusantara XI.

Bambang menambahkan, International Rice Research Institute (IRRI) Filipina menemukan padi transgenik yang mengandung vitamin A atau terkenal dengan golden rice. Menurut rencana, rekayasa genetika serupa terhadap padi jenis ciherang juga dilakukan di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Golden rice yang kaya vitamin A itu akan membuat beras menjadi berwarna kekuningan. Dengan mengonsumsi beras ini, diharapkan dapat memperbaiki asupan vitamin A.

Aplikasi teknologi genetika pada beras yang ditemukan Peter Beyer dan Ingo Portrykus serta perusahaan Syngenta ini tidak dipungut biaya. ”Penemuan ini didedikasikan bagi kemanusiaan,” kata Randy A Hautea, Direktur International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) Asia Tenggara.

Sementara itu, pendiri dan Ketua Dewan ISAAA, Clive James, mengatakan, tanaman rekayasa genetika tidak menjamin kecukupan pangan penduduk. ”Tetapi ini terobosan penting untuk penggandaan produktivitas serta keamanan pangan, pakan, dan serat,” ujarnya.

Butuh kajian

Clive James menegaskan, produk transgenik tak diragukan jika sudah melewati penelitian menyeluruh dan lolos dari pengkajian komisi keamanan pangan, baik nasional maupun internasional.

Penerapan bioteknologi pangan ini telah dimulai sejak 1996. Hingga kini telah terbentuk 1 miliar hektar lahan pertanian transgenik di 29 negara. (ICH)