PERIKANAN KELAUTAN Terumbu Karang Sumber Ikan Dunia

Jumat,
04 November 2011

Jakarta, Kompas – Sekitar separuh jumlah ikan di perairan laut dunia berasal dari kawasan segitiga terumbu karang seluas 14,7 juta kilometer persegi, yang sebagian besar masuk wilayah Indonesia. Kerusakan atau hilangnya ekosistem terumbu karang ini berdampak besar bagi perikanan dunia.

Segitiga terumbu karang berperairan relatif hangat dengan arus kuat dan biodiversitas tinggi, tempat ideal bagi berbagai jenis ikan untuk bertelur dan membesarkan anaknya. ”Di segitiga terumbu karang banyak berbagai arus, melintasi gunung berapi bawah laut yang subur. Ikan suka bertelur di arus yang kuat supaya telurnya aman dari predator,” kata dr Lida Pet-Soede, Head of the WWF Coral Triangle Programme, Kamis (3/11), di Jakarta, di sela-sela peluncuran program MyCoral Triangle. [Read the rest of this entry…]

Comments (345)

Lahan Kian Mendesak

Jumat,
04 November 2011

Jakarta, Kompas – Pengadaan bank tanah untuk perumahan rakyat semakin mendesak. Keterbatasan dan mahalnya lahan di perkotaan menjadi penghambat utama pelaksanaan program pembangunan rumah sejahtera bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Membedah Kinerja Perumahan Rakyat: Evaluasi Dua Tahun dan Tantangan Tiga Tahun ke Depan Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta, Kamis (3/11).

Deputi bidang Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Sri Hartoyo mengemukakan, peran pemerintah daerah (pemda) untuk penyediaan perumahan dan kawasan permukiman semakin mendesak. Penyediaan rumah di perkotaan semakin sulit sebab harga tanah kian tidak terkendali yang dipicu spekulasi. [Read the rest of this entry…]

Comments (763)

CADANGAN PANGAN Bulog Tidak Bisa Membeli Beras BUMN

Jumat,
04 November 2011

Jakarta, Kompas – Perum Bulog, Kamis (3/11), belum bisa membeli beras produksi Konsorsium BUMN dalam program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi. Hal ini terjadi karena tidak ada kesepakatan di antara perusahaan pangan milik pemerintah.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, Konsorsium BUMN menginginkan harga jual sesuai harga pasar. ”Kalau ini dilakukan akan mendorong inflasi. Di sisi lain, Bulog harus mampu menekan harga beras agar tidak terus naik,” jelasnya. [Read the rest of this entry…]

Comments (674)

WASPADA BANJIR Jakarta Perlu Perhatikan Air di Hulu

Jumat,04 November 2011

Bogor, Kompas – Kerusakan daerah hulu sungai yang ditandai dengan fluktuasi air yang begitu tinggi saat kemarau dan hujan, seperti terjadi di Sungai Ciliwung dan Cisadane, akan membuat banjir semakin parah. Dalam jangka panjang, banjir akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan investasi. [Read the rest of this entry…]

Comments (263)

Desa Terpadu Berenergi Hibrida

Kompas 17 Feb 2011 Panorama pantai Bantul yang diliputi gumuk pasir kini mulai berubah dengan berdirinya puluhan kincir angin dan jajaran panel sel surya. Tak jauh dari lokasi di pantai baru itu dibangun peternakan sapi yang memasok energi biogas dan pupuk kompos sebagai hasil sampingannya.
Seperti desa nelayan [Read the rest of this entry…]

Tags: , , ,

Comments (316)

Energi Alternatif : PLTN Jadi Pilihan Terakhir

Kompas 17-03-11

Jakarta, Kompas – Pembangkit listrik tenaga nuklir merupakan pilihan terakhir sumber energi listrik bagi Indonesia. Selama masih ada pilihan energi alternatif lain, nuklir tak akan dipilih.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan hal itu kepada wartawan di Jakarta, Rabu (16/3). ”Ada atau tidak ada kejadian gempa di Jepang, Indonesia menempatkan nuklir pada pilihan terakhir,” kata Hatta. [Read the rest of this entry…]

Tags: , , ,

Comments (330)

Pertanian : Akses ke Sumber Pembiayaan Disepakati

Kompas, 17 03 11.

Jakarta, Kompas – Kesulitan petani memperoleh akses kredit perbankan dapat teratasi dalam waktu dekat. Menteri Pertanian Suswono dan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Rabu (16/3), menyepakati pengembangan sektor pertanian, sumber daya peningkatan usaha kecil menengah pertanian, dan akses sektor pertanian ke sumber pembiayaan.

Dalam jumpa pers seusai penandatanganan nota kesepahaman, Suswono menjelaskan, kerja sama tersebut mencakup pemetaan daerah unggulan, dukungan kredit bagi petani, kebijakan dan prioritas bidang usaha, serta pembinaan dan pengawalan. [Read the rest of this entry…]

Tags: , , , ,

Comments (369)

Pemerintah Buka Diri Aplikasikan Transgenik

Jakarta, Kompas – Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan mengembangkan dan mengupayakan budidaya produk pertanian hasil rekayasa genetika. Keputusan itu diambil untuk menjaga keamanan pangan dan mengurangi ketergantungan negara akan impor.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, Senin (14/3) di Jakarta, mengatakan, pengembangan produk pangan transgenik merupakan terobosan teknologi dalam mengatasi permasalahan pangan. ”Arahan kebijakan sangat jelas, kita gunakan (transgenetika),” kata Bayu seusai membuka seminar ”Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops in 2010” di Kementerian Pertanian.

Hanya saja, kata Bayu, penerapannya di Indonesia jangan membuat petani bergantung pada perusahaan atau negara tertentu karena teknologi ini sudah sangat dikuasai negara luar.

Bayu mengatakan, pertanian transgenik telah digunakan luas di China, bahkan seluruh pangan di Argentina merupakan hasil penerapan bioteknologi.

Kementerian Pertanian kini sedang membangun sistem untuk memberikan perlindungan bagi petani dan pengusaha. ”Jangan sampai terulang kembali pengalaman pemalsuan bibit yang merugikan petani dan pengusaha,” ujarnya.

Direktur Pusat Informasi Bioteknologi Indonesia (IndoBIC) Bambang Purwantara mengatakan, Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Indonesia telah meloloskan spesies jagung hasil transgenik Bt Corn NK603 dan Bt Corn MON89304 untuk pangan dan pakan.

Ada pula tebu yang tahan penyakit dan tahan kekeringan, yang telah usai tahap notifikasi publik di Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia. Tebu ini hasil penelitian Universitas Negeri Jember dan PT Perkebunan Nusantara XI.

Bambang menambahkan, International Rice Research Institute (IRRI) Filipina menemukan padi transgenik yang mengandung vitamin A atau terkenal dengan golden rice. Menurut rencana, rekayasa genetika serupa terhadap padi jenis ciherang juga dilakukan di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Golden rice yang kaya vitamin A itu akan membuat beras menjadi berwarna kekuningan. Dengan mengonsumsi beras ini, diharapkan dapat memperbaiki asupan vitamin A.

Aplikasi teknologi genetika pada beras yang ditemukan Peter Beyer dan Ingo Portrykus serta perusahaan Syngenta ini tidak dipungut biaya. ”Penemuan ini didedikasikan bagi kemanusiaan,” kata Randy A Hautea, Direktur International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) Asia Tenggara.

Sementara itu, pendiri dan Ketua Dewan ISAAA, Clive James, mengatakan, tanaman rekayasa genetika tidak menjamin kecukupan pangan penduduk. ”Tetapi ini terobosan penting untuk penggandaan produktivitas serta keamanan pangan, pakan, dan serat,” ujarnya.

Butuh kajian

Clive James menegaskan, produk transgenik tak diragukan jika sudah melewati [Read the rest of this entry…]

Comments (277)

Minat Mahasiswa terhadap Penelitian Masih Rendah

kompas 160311

Jakarta, Kompas – Minat mahasiswa untuk terjun ke dunia penelitian ilmu kebumian masih sangat rendah. Padahal, Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana kebumian, seperti gempa dan tsunami, yang sangat besar.

”Sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada sarjana yang mau menjadi peneliti di bidang ilmu kebumian terkait dengan bencana seperti gempa dan tsunami,” kata Danny Hilman, geolog yang menjadi Ketua Penelitian Kegempaan pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ketika dihubungi, Selasa (15/3) di Bandung, Jawa Barat.

Mengingat bentang alam Indonesia yang sangat luas, Indonesia membutuhkan banyak peneliti di bidang ilmu kebumian. Apalagi posisi Indonesia yang berada di sabuk vulkanik (ring of fire) dan berada di daerah pertemuan lempeng tektonik.

Danny mengatakan, ia kesulitan merekrut peneliti-peneliti baru yang menekuni ilmu kebumian terkait dengan penelitian bencana alam. Di lembaganya, kata Danny, sekarang ini hanya ada dua peneliti kebumian yang mendalami soal gempa tektonik hingga ke jenjang S-3.

Lembaga itu bahkan kehilangan satu-satunya ahli seismic hazard yang memiliki keahlian membuat pemetaan zona bahaya gempa diukur dari kekuatan pergerakan tanah.

”Ahli seismic itu hanya betah dua tahun lalu pindah ke lembaga lain untuk meneliti eksplorasi sumber daya alam,” kata Danny.

Kurang perhatian

Kepala Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Muzani menjelaskan, sebenarnya ilmu kebumian banyak diminati mahasiswa. Karena banyak peminatnya, UNJ bahkan berencana membuka jurusan Ilmu Geografi yang mempelajari geografi secara fisik, bukan hanya menciptakan guru-guru pengajar pelajaran geografi di sekolah seperti selama ini.

Namun, kata Muzani, ketika menghadapi penjurusan, para mahasiswa ini cenderung lebih tertarik menekuni bidang teknologi perminyakan dan pertambangan.

”Masa depannya lebih menjanjikan daripada menjadi peneliti. Itu fakta yang membuat banyak orang tak melirik bidang- bidang penelitian,” ujarnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Djoko Santoso mengakui bahwa lebih banyak mahasiswa yang tertarik menekuni bidang teknologi pertambangan dan perminyakan dibandingkan mereka yang terjun meneliti kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana.

Menurut Djoko, tidak banyak perguruan tinggi negeri dan swasta yang memiliki jurusan atau fakultas ilmu-ilmu kebumian. Untuk itu, ia mengimbau agar perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, mulai membuka program ilmu kebumian karena Indonesia membutuhkan lebih banyak ahli dan peneliti kondisi geografis Indonesia terkait dengan kebencanaan.

Danny menyoroti perhatian pemerintah terhadap bidang penelitian sangat rendah sehingga tidak merangsang minat mahasiswa. Kalau di luar negeri, kehidupan para peneliti sangat sejahtera. (IND/LUK)

Tags: , , ,

Comments (734)

Peran Ilmuwan Sosial “Memudar”

kompas 160311

Depok, Kompas – Peran ilmuwan sosial akan memudar jika mereka masuk dan terlibat dalam dunia politik atau birokrasi. Secara universal, peran ilmuwan sosial seharusnya bisa membantu masyarakat memahami fenomena atau persoalan yang tengah terjadi dengan pandangan obyektif.

”Ilmuwan sosial yang terlibat politik kerap ’hilang’ dan menjadi politikus karena tidak lagi mengusung keilmuannya,” kata sosiolog dari Perancis, Michel Wieviorka,

seusai kuliah umum yang bertema ”Social Sciences in Mutation”, Selasa (15/3) di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok. [Read the rest of this entry…]

Tags: , , , ,

Comments (1,249)